SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Minggu, 05 Mei 2013

Refleksi Sekolah Bertaraf Internasional’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/sekolah-bertaraf-internasional-sebuah.html


Artikel ‘Sekolah Bertaraf Internasional’ menjelaskan proses yang harus dilalui oleh sebuah sekolah menjadi sekolah SBI. Sekolah harus memenuhi ‘syarat’ dan ‘rukun’ yang telah ditentukan. Selain itu, perlu adanya meluruskan tujuan adanya SBI. SBI bukan hanya sebatas apa yang beredar di masyarakat yang kebanyakan hanya mementingkan ‘lebel’ nya.

SBI ditujukan untuk menjawab tuntutan zaman. Globalisasi menuntut masyarakat agar siap menghadapi tantangan dan persaingan internasional. Namun, segalanya kembali kepada pelaksana dan masyarakat. Bila memang semua elemen menganggap SBI hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, maka semua kembali pada masyarakat itu sendiri. Sesungguhnya, setiap kebijakan yang diputuskan akan ada konsekuensi yang menyertainya. Semoga bermanfaat.


Refleksi ‘Mathematics and Language 3’

http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html


Artikel ‘Mathematics and Language 3’ membuka pikiran kita bahwa sekarang bukanlah zamannya pembelajaran tradisional. Kita semua tahu apa dan bagaimana pembelajaran tradisional itu. Zaman sekarang, pendidikan dituntut untuk mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik. Jadi, cara modern sudah tidak sesuai dan tidak mampu menjawab tuntutan zaman.

Untuk memenuhi tuntutan zaman, seorang guru harus memiliki dua hal pokok, yaitu Accountability dan Sustainability. Keduanya sangat berhubungan erat dan tidah bisa dipisahkan. Accountability merupakan keadaan dimana seseorang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah dipercaya untuk membagi ilmunya pada peserta didik. Accountability menimbulkan Sustainability, yaitu suatu kepercayaan yang dapat dijaga secara terus-menerus. Hal inilah yang belum ada dalam pendidikan kita. Guru atau pendidik hanyalah sebagai lebel dalam pekerjaan. Sedangkan kualitasnya tergantung kepentingan. Artinya, apabila guru mempunyai suatu kepentingan (naik jabatan) maka  proses belajar akan dibuat sebaik mungkin. Tapi, itu tidak akan bertahan lama. Semua itu karena mereka masih beranggapan bahwa profesi sebagai pendidik bukanlah sebuah hobi, tapi sebuah kepentingan. Semoga bermanfaat.


Refleksi ‘Mathematics and Language 3’

http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html


Artikel ‘Mathematics and Language 3’ membuka pikiran kita bahwa sekarang bukanlah zamannya pembelajaran tradisional. Kita semua tahu apa dan bagaimana pembelajaran tradisional itu. Zaman sekarang, pendidikan dituntut untuk mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik. Jadi, cara modern sudah tidak sesuai dan tidak mampu menjawab tuntutan zaman.

Untuk memenuhi tuntutan zaman, seorang guru harus memiliki dua hal pokok, yaitu Accountability dan Sustainability. Keduanya sangat berhubungan erat dan tidah bisa dipisahkan. Accountability merupakan keadaan dimana seseorang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah dipercaya untuk membagi ilmunya pada peserta didik. Accountability menimbulkan Sustainability, yaitu suatu kepercayaan yang dapat dijaga secara terus-menerus. Hal inilah yang belum ada dalam pendidikan kita. Guru atau pendidik hanyalah sebagai lebel dalam pekerjaan. Sedangkan kualitasnya tergantung kepentingan. Artinya, apabila guru mempunyai suatu kepentingan (naik jabatan) maka  proses belajar akan dibuat sebaik mungkin. Tapi, itu tidak akan bertahan lama. Semua itu karena mereka masih beranggapan bahwa profesi sebagai pendidik bukanlah sebuah hobi, tapi sebuah kepentingan. Semoga bermanfaat.


Refleksi ‘Mathematics and Language 3’

http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html


Artikel ‘Mathematics and Language 3’ membuka pikiran kita bahwa sekarang bukanlah zamannya pembelajaran tradisional. Kita semua tahu apa dan bagaimana pembelajaran tradisional itu. Zaman sekarang, pendidikan dituntut untuk mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik. Jadi, cara modern sudah tidak sesuai dan tidak mampu menjawab tuntutan zaman.

Untuk memenuhi tuntutan zaman, seorang guru harus memiliki dua hal pokok, yaitu Accountability dan Sustainability. Keduanya sangat berhubungan erat dan tidah bisa dipisahkan. Accountability merupakan keadaan dimana seseorang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah dipercaya untuk membagi ilmunya pada peserta didik. Accountability menimbulkan Sustainability, yaitu suatu kepercayaan yang dapat dijaga secara terus-menerus. Hal inilah yang belum ada dalam pendidikan kita. Guru atau pendidik hanyalah sebagai lebel dalam pekerjaan. Sedangkan kualitasnya tergantung kepentingan. Artinya, apabila guru mempunyai suatu kepentingan (naik jabatan) maka  proses belajar akan dibuat sebaik mungkin. Tapi, itu tidak akan bertahan lama. Semua itu karena mereka masih beranggapan bahwa profesi sebagai pendidik bukanlah sebuah hobi, tapi sebuah kepentingan. Semoga bermanfaat.


Refleksi ‘Mathematics and Language 3’

http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html


Artikel ‘Mathematics and Language 3’ membuka pikiran kita bahwa sekarang bukanlah zamannya pembelajaran tradisional. Kita semua tahu apa dan bagaimana pembelajaran tradisional itu. Zaman sekarang, pendidikan dituntut untuk mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik. Jadi, cara modern sudah tidak sesuai dan tidak mampu menjawab tuntutan zaman.

Untuk memenuhi tuntutan zaman, seorang guru harus memiliki dua hal pokok, yaitu Accountability dan Sustainability. Keduanya sangat berhubungan erat dan tidah bisa dipisahkan. Accountability merupakan keadaan dimana seseorang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah dipercaya untuk membagi ilmunya pada peserta didik. Accountability menimbulkan Sustainability, yaitu suatu kepercayaan yang dapat dijaga secara terus-menerus. Hal inilah yang belum ada dalam pendidikan kita. Guru atau pendidik hanyalah sebagai lebel dalam pekerjaan. Sedangkan kualitasnya tergantung kepentingan. Artinya, apabila guru mempunyai suatu kepentingan (naik jabatan) maka  proses belajar akan dibuat sebaik mungkin. Tapi, itu tidak akan bertahan lama. Semua itu karena mereka masih beranggapan bahwa profesi sebagai pendidik bukanlah sebuah hobi, tapi sebuah kepentingan. Semoga bermanfaat.


Refleksi Elegi Menggapai "Axiology of Mathematics"

http://powermathematics.blogspot.com/2013/04/elegimenggapai-axiology-of-mathematics.html


Yang dapat saya tuliskan di refleksi ini menurut artikel Elegi Menggapai "Axiology of Mathematics" adalah pengertian Aksiologi. Menurut pemahaman saya, Aksiologi merupakan nilai-nilai atau ukuran-ukuran yang digunakan sebagai patokan atau pedoman dalam mengembangkan ilmu. Aksiologi dalam Filsafat nilai, menjelaskan baik-buruk dan  benar-salah sesuatu dilihat dari perspektif nilai. Ada beberapa poin yang termasuk anggota Aksiologi matematika, yaitu: etika yang membahas aspek kebenaran, tanggungjawab dan peran matematika dalam kehidupan, dan estetika yang membahas mengenai keindahan matematika dan implikasinya pada kehidupan yang bisa mempengaruhi aspek-aspek lain terutama seni dan budaya dalam kehidupan. Jadi, jika ditinjau dari aspek aksiologi, matematika seperti ilmu-ilmu yang lain, yang sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan manusia. Segala ilmu dan kehidupan di dunia ini tidak bisa lepas dari pengaruh matematika. Dalam kehidupan sehari-hari pun pasti ada kegiatan matematika. Semoga bermanfaat.

Refleksi ‘Elegi Ritual Ikhlas’


Artikel ‘Elegi Ritual Ikhlas’ mengajarkan kita untuk selalu ikhlas dalam segala perbuatan. Dalam hal ini, ikhlas diartikan sebagai perbuatan tanpa mengharap imbalan. Perilaku ikhlas mengajarkan kita untuk selalu tulus dalam memberikan bantuan. Begitu juga dengan mendidik. Mendidik anak haruslah dengan penuh rasa ikhlas. Bukan semata-mata karena gaji ataupun tuntutan profesi.sebaiknya segera kita benahi niat kita, bahwa mengajar atau mendidik bukan karena sebuah keterpaksaan.