SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Selasa, 11 Juni 2013

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Sombong'



Sombong merupakan sifat yang melebih-lebihkan apa yang ada pada dirinya. Sombong dapat mematikan akal dan nurani manusia. Perilaku sombong akan menggerogoti rasa simpati, empati, etik, dan estetika. Ketika seseorang berperilaku sombong, maka sesungguhnya dia tidak hanya merugikan dirinya sendiri tetapi juga orang lain. 

Refleksi 'Elegi Menggapai Bicara'



Bicara, bahasa, dan kata-kata adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketika ada bicara pasti ada kata-kata dan bahasa. Hal ini sudah seperti kodratnya. Manusia memikirkan kata-kata dan membicarakannya melalui bahasa.

Refleksi 'Jargon Para Subyek'



Subyek dan jargon ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Subyek adalah pelakunya dan jargon adalah bagian dari pelaksana itu sendiri. Ketika para pelaku sedang kacau, tidak menentu, maka sebenarnya mereka telah membuat jargon.

Refleksi 'Elegi Menggapai Pikiran Jernih'



Untuk melakukan segala sesuatunya, kita harus memulainya dengan pikiran jernih. Pikiran jerniah akan memudahkan kita menelaah dan menganalisi tentang apa yang sedang kita pelajari. Hal ini akan membantu kita memahami sesuatu. Apabila pikiran kita sudah kacau, maka kita tidak akan nyaman melakukan segala hal sebelum pikiran kita menjadi jernih kembali. Jernihnya pikiran sangat menentukan perilaku kita. 

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika'



Yang bisa saya pahami dari artikel ini adalah, seseorang yang berilmu tinggi tidak lantas membuatnya menjadi sombong, takabur. Ia harus memegang teguh etik dan estetikanya. Ketika seseorang sudah berpedoman pada etik dan estetika, maka segala yang ia lakukan tidak akan melanggar pedoman itu. Etik dan estetika bisa juga berarti pikiran ataupun nurani. Keduanya dapat memberikan pertimbangan baik-buruk dan benar -salah.

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika'



Yang bisa saya pahami dari artikel ini adalah, seseorang yang berilmu tinggi tidak lantas membuatnya menjadi sombong, takabur. Ia harus memegang teguh etik dan estetikanya. Ketika seseorang sudah berpedoman pada etik dan estetika, maka segala yang ia lakukan tidak akan melanggar pedoman itu. Etik dan estetika bisa juga berarti pikiran ataupun nurani. Keduanya dapat memberikan pertimbangan baik-buruk dan benar -salah.

Refleksi 'Elegi Seorang Guru Menggapai Terang'



Belajar, berpikir, bertanya, berdoa. Seseorang dalam perjalanan hidupnya pasti merasakan kelelahan. Kelelahan fisik maupun emosional. Namun, apabila karena kelelahan itu kita menjadi tidak belajar, maka itulah kesalahan kita. Banyak hal yang dapat kita pelajari di dunia ini. Ketika kita belajar pada dunia, maka dunia akan memberikan kita pelajaran. Pelajaran inilah yang akan membuat kita berpikir maju dan berkembang. Artinya, kelelahan tidak bisa menghalangi kita untuk terus, terus, dan terus belajar. Melalui bertanya, refleksi, mendengarkan, membaca, dan lain-lain. Apabila kita sudah merasa lelah, itu pertanda bahwa doa kita melemah. Doa adalah kekuatan fisik, spiritual, dan emosional. Untuk itu, kita harus selalu berdoa dalam segala keadaan untuk meng-upgrade semangat kita.