SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Selasa, 11 Juni 2013

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Sombong'



Sombong merupakan sifat yang melebih-lebihkan apa yang ada pada dirinya. Sombong dapat mematikan akal dan nurani manusia. Perilaku sombong akan menggerogoti rasa simpati, empati, etik, dan estetika. Ketika seseorang berperilaku sombong, maka sesungguhnya dia tidak hanya merugikan dirinya sendiri tetapi juga orang lain. 

Refleksi 'Elegi Menggapai Bicara'



Bicara, bahasa, dan kata-kata adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketika ada bicara pasti ada kata-kata dan bahasa. Hal ini sudah seperti kodratnya. Manusia memikirkan kata-kata dan membicarakannya melalui bahasa.

Refleksi 'Jargon Para Subyek'



Subyek dan jargon ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Subyek adalah pelakunya dan jargon adalah bagian dari pelaksana itu sendiri. Ketika para pelaku sedang kacau, tidak menentu, maka sebenarnya mereka telah membuat jargon.

Refleksi 'Elegi Menggapai Pikiran Jernih'



Untuk melakukan segala sesuatunya, kita harus memulainya dengan pikiran jernih. Pikiran jerniah akan memudahkan kita menelaah dan menganalisi tentang apa yang sedang kita pelajari. Hal ini akan membantu kita memahami sesuatu. Apabila pikiran kita sudah kacau, maka kita tidak akan nyaman melakukan segala hal sebelum pikiran kita menjadi jernih kembali. Jernihnya pikiran sangat menentukan perilaku kita. 

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika'



Yang bisa saya pahami dari artikel ini adalah, seseorang yang berilmu tinggi tidak lantas membuatnya menjadi sombong, takabur. Ia harus memegang teguh etik dan estetikanya. Ketika seseorang sudah berpedoman pada etik dan estetika, maka segala yang ia lakukan tidak akan melanggar pedoman itu. Etik dan estetika bisa juga berarti pikiran ataupun nurani. Keduanya dapat memberikan pertimbangan baik-buruk dan benar -salah.

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika'



Yang bisa saya pahami dari artikel ini adalah, seseorang yang berilmu tinggi tidak lantas membuatnya menjadi sombong, takabur. Ia harus memegang teguh etik dan estetikanya. Ketika seseorang sudah berpedoman pada etik dan estetika, maka segala yang ia lakukan tidak akan melanggar pedoman itu. Etik dan estetika bisa juga berarti pikiran ataupun nurani. Keduanya dapat memberikan pertimbangan baik-buruk dan benar -salah.

Refleksi 'Elegi Seorang Guru Menggapai Terang'



Belajar, berpikir, bertanya, berdoa. Seseorang dalam perjalanan hidupnya pasti merasakan kelelahan. Kelelahan fisik maupun emosional. Namun, apabila karena kelelahan itu kita menjadi tidak belajar, maka itulah kesalahan kita. Banyak hal yang dapat kita pelajari di dunia ini. Ketika kita belajar pada dunia, maka dunia akan memberikan kita pelajaran. Pelajaran inilah yang akan membuat kita berpikir maju dan berkembang. Artinya, kelelahan tidak bisa menghalangi kita untuk terus, terus, dan terus belajar. Melalui bertanya, refleksi, mendengarkan, membaca, dan lain-lain. Apabila kita sudah merasa lelah, itu pertanda bahwa doa kita melemah. Doa adalah kekuatan fisik, spiritual, dan emosional. Untuk itu, kita harus selalu berdoa dalam segala keadaan untuk meng-upgrade semangat kita.

Refleksi 'BAHAN UJIAN AKHIR SEMESTER Mata Kuliah Filsafat ILMU_Program S2 P Mat Kerjasama Dinas Kota'



Semoga dengan rekaman tersebut dapat membantu persiapan ujian bagi mahasiswa S2. Bagaimana dengan ujian matematika PGSD UNY kampus wates Pak?

Senin, 10 Juni 2013

Refleksi 'Elegi Mengenal Jargon



Awalnya, yang saya tahu mengenai jargon adalah sebagai berikut: Jargon dapat bernilai negatif dan positif. Sebuah jargon akan bernilai negatif apabila jargon dibuat hanya untuk menutupi hal sebenarnya ataupun kamuflase dari permainan politik. Jargon akan bernilai positif apabila dibuat untuk membangkitkan semangat. Sekarang, saya mendapat pengetahuan yang berbeda mengenai jargon. Jargon tidak hanya digunakan untuk itu tetapi juga digunakan dalam ilmu pengetahuan. Tak jarang hanya si pembuat jargon yang mengetahui makna dan maksud dari jargon tersebut. Bahkan, tidak sedikit yang keliru dalam memahaminya.

Refleksi 'Forum tanya Jawab 54: Dialog Filsafat ke dua'


Filsafat dan ilmu filsafat. Dalam perkuliahan, mahasiswa hendaknya memahami filsafat. Dengan begitu, maka inti dari filsafat dan segala jiwanya bisa kita pahami. Semua itu tidak bisa dipelajari secara instan dan akan sangat sulit bila dipelajari sendiri. Perlu dipahami bahwa filsafat adalah mengkaji hasil pemikiran, bisa nyata dan tidak. Untuk itu perlu pemikiran tajam untuk memahami urgensi filsafat itu sendiri.

Refleksi 'Forum Tanya Jawab 53: Dialog Filsafat'



Filsafat itu mengkaji apa yang mungkin dan tidak mungkin. Belajar filsafat tidak bisa dilakukan hanya sepotong-sepotong. Karena maksud yang terpahami bisa berbeda. Terlebih bahasa filsafat yang tinggi. Makna yang terkandung merupakan makna tersirat. Bagi para pemula, belajar filsafat sangat sulit. Harus menguraikan satu per satu setiap kata dan kalimat. 

Refleksi 'Elegi Menggapai Sastra'



Sesi ini saya benar-benar tidak paham. Elegi yang sulit ditambah sastra yang rumit. Penuh makna-makna kiasan dan tersirat. Filsafat memanglah topik yang berat. Sulit untuk kita memahami bila hanya sebatas membaca tanpa mengkajinya lebih dalam.

Refleksi 'Elegi Wayang Golek'



Elegi dan wayang golek. Membangun sebuah hubungan perumpamaan. Wayang golek adalah budaya asli Indonesia yang harus dilestarikan. Menurut apa yang arttikel ini paparkan, wayang golek merupakan mencari di balik bayangan. Bila diartikan, wayang golek adalah sebuah upaya pencarian hikmah dan nikmat dari setiap peristiwa yang terjadi. Wayang golek bisa juga diartikan sebagai bayangan dari pikiran pikiran yang melahirkan filsafat.

Rabu, 05 Juni 2013

Refleksi 'Skema Penilaian Filsafat Ilmu (S2)'



Penilaiannya luar biasa Pak. Bolehkah saya bertanya? Bagaimana penilaian bagi kami  mahasiswa S1 PGSD di Kampus Wates.

Refleksi 'Elegi Menggapai Purnakata'


Perpisahan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Bila sudah waktunya, maka perpisahan itu akan terjadi. Dengan adanya perpisahan, bukan berarti upaya kita untuk belajar berhenti di situ. Harapannya, perpisahan akan membuat kita untuk selalu berusaha tanpa ada ketergantungan pada siapa pun.

Menurut artikel ini, filsafat merupakan olah pikir. Ini berarti bahwa filsafat merupakan hasil dari olah pikir manusia. olah pikir tersebut melibatkan berbagai dimensi, baik dimensi ruang maupun dimensi waktu. Filsafat menkaji hal yang mungkin dan tidank mungkin. Meski pun belajar filsafat itu sulit, tapi filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya.

Refleksi 'Elegi Refleksi Elegi'



Sungguh, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak karena telah mengenalkan filsafat pada saya dengan susah payah. Filsafat memang suatu hal yang sulit dipahami, bahkan, sampai sekarang saya belum memahami filsafat itu sendiri. Namun, Bapak memberikan saya jalan untuk belajar filsafat. Melalui tulisan-tulisan Bapak, saya belajar filsafat. Meskipun terkadang harus membacanya sampai berulang-ulang, tapi tulisan Bapak sudah cukup menghemat segala hal, mengingat filsafat memang sangat luas. Harapan saya, semoga saya dapat memanfaatkan kesempatan yang Bapak berikan untuk belajar filsafat.

Refleksi 'Elegi Mendengarkan Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf'


Saya kagum. Betapa para filsuf begitu berjuang keras untuk memahamkan filsafat-filsafatnya. Namun, satu hal yang penting, yaitu belajar filsafat tidak bisa secara instan. Diperlukan proses dan waktu yang relative lama. Tidak hanya itu, bagi kami para pemula, perlu adanya suatu pengemasan yang menarik agar filsafat mudah dipahami dan tidak membosankan. Sesungguhnya makna tersirat dan penggunaan bahasa yang tingkat tinggi itulah yang membuat kami para pemula merasa kesulitan memahami filsafat.


Refleksi 'Elegi Memahami Elegi'



Sebenarnya, saya sangat kaget membaca elegi yang satu ini. Bapak begitu memahami perasaan masiswa yang galau dengan elegi Bapak. Bagi saya, yang ibaratnya baru kemarin mengenal elegi, elegi ini memang sangat membingungkan. Bahasanya tingkat tinggi. Saya sangat kesulitan memahaminya. Tapi, saya berterimakasih kepada Bapak, karena Bapak berkenan mengenalkan elegi-elegi Bapak kepada saya. 

Refleksi 'Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih'



Awalnya, saya sangat asing sekali dengan kata-kata elegy. Sampai saya bertemu dengan Pak Marsigit. Sekarang saya lebih familiar dengan kata elegy. Namun, sejujurnya saya masih bingung dengan arti kata dari elegy itu. Yang saya tahu, elegy ini merupakan sebuah kemasan untuk mempermudah mempelajari filsafat. Banyak orang yang menganggap filsafat itu rumit dan tidak penting. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya sendiri belum tahu arti filsafat. Saya masih bingung tentang filsafat. Apalagi, filsafat ini baru saya kenal di perguruan tinggi.

Selasa, 04 Juni 2013

Refleksi 'Peta 4- Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest'



Peta yang ke-empat ini menjelaskan mengenai sumber, evaluasi tiap-tiap aliran. Setiap aliran, sumber dan cara evaluasinya berbeda. Perbedaan ini tentunya juga sebagai pembeda dalam metide belajar mengajar. Namun, apapun perbedaannya, yang jelas adalah gunakan yang terbaik sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Refleksi 'Peta 3 - Peta Pendidikan Dunia _ dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest'



Artikel tersebut menjelaskan peta 3 pendidikan dunia. Dari peta 3 tersebut dapat kita ketahui bahwa pada masyarakat industrial trainer, teori pembelajaran yang digunakan adalah bekerja keras, latihan, drill, dan menghafal. Sedangkan pada masyarakat technological pragmatis, teori pembelajaran yang digunakan adalah berpikir dan praktek. Lain lagi pada masyarakat old humanis, teori pembelajaran yang digunakan adalah memahami dan mengaplikasikan. Begitu pula pada masyarakat progressive educator, teori pembelajaran yang digunakan adalah eksplorasi.sedangkan pada masyarakat public educator, teori pembelajaran yang digunakan adalah diskusi. Jadi, tiap-tiap cabang peta menganut teori sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhannya.

Refleksi 'Peta 2 - Peta Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest'



Peta konsep yang kedua ini ternyata harus lebih dipahami lagi. Pada peta yang ke dua ini menjelaskan bahwa ada tiga hal yang ada di dunia ini yaitu sosial, pendidikan dan kemampuan pelajar. Tiga hal ini memiliki sesuatu yang berbeda. Pebedaan tersebut akan menentukan kita dalam mengadopsi aliran-aliran tersebut. Oleh karena itu pelu diperdalam lagi mengenai rinciannya.

Refleksi 'Peta 1 - Peta Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest'



Artikel ini menyajikan peta pendidikan dunia karya Pak Mrsigit. Menariknya adalah bahwa pendidikan dapat dipetakan menjadi beberapa bagian yaitu politics, mathematics dan moral value. Ini sangat memudahkan kita memahami perbedaan tiap-tiap aliran. Manfaat lain dari peta ini adalah dapat mempermudah kita aliran mana yang paling sesuai dengan kondisi peserta didik dan masyarakat.

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)'



Dari artikel tersebut, yang saya dapatkan adalah bahwa belajarnya orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Maka, matematika murni tidak bisa dan jangan sampai dipaksakan pada anak-anak. Ini akan menimbulkan akibat yang luar biasa. Biarlah anak-anak menikmati matematika sesuai porsinya masing-masing. Matematika bagi anak adalah kegiatan mereka sendiri. Jadi, jangan sampai sebuah pemaksaan terjadi karena itu akan berdampak negative pada anak.

Refleksi 'Dialog Internasional 7 Pendidikan Matematika'



Matematika murni dan pendidikan matematika memanglah berbeda. Namun, keduanya saling berkaitan. Pendidikan lebih ditekankan pada sisi pedagogic, yaitu bagaimana memperkenalkan matematika pada siswa dan bagaimana membiasakan matematika itu sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik. Matematika murni menekankan pada konsep yang rinci dan terstruktur. Kaitannya adalah antara pendidikan matematika dan matematika murni sama-sama memperlajari matematika. Rumus-rumus pendidikan murni ada kalanya digunakan oleh pendidikan matematika.

Refleksi 'Glossary of Kant's Technical Terms_By Palmquist'



Dalam mempelajari Filsafat, diperlukan pula mempelajari istilah-istilah dalam bahasa asing. Banyak sekali istilah-istilah yang harus dipahami. Melalui artikel ini, Pak Prof berusaha membantu siapa saja yang ingin belajar filsafat mengenai istilah-istilah dalam filsafat. Ini sangat membantu terutama bagi saya yang belum paham mengenai filsafat. Istilah ini bermanfaat untuk membangun konsep. Terima kasih Pak Prof.

Refleksi 'Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu'



Subhanallah… benar-benar mengagumkan. Allah akan menunjukkan kuasanya dengan cara yang tidak pernak diduga oleh manusia. Dalam artikel tersebut terkandung makna bahwa setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Kesalahan tersebut akan dimintai pertanggung jawaban (dibalas). Oleh karena itu, sebaik-baiknya manusia yang berbuat kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat dan memperbaiki dirinya.

Refleksi 'Elegi Pemberontakan Para Berhenti'



Elegi Menggapai Ridha Allah
Mendapatkan keridhaan Allah merupakan impian setiap muslim. Impian ini perlu diperjuamgkan. Tidak sekedar berjuang apa adanya, melainkan sebenar-benarnya perjuangan. Salah satu perjuangan yang harus kita lalui adalah berjuang meluruskan niat dan ikhlas. Faktanya, dua hal ini sangat ringan diucapkan, tapi sungguh berat dilakukan. Berat di sini tidak kemudian menjadikan kita menjauh dan tidak mau berusaha, melainkan menjadikannya sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Apabila kita sudah LULUS dari tantangan ini, maka Insya Allah ridha Allah akan kita dapatkan.

Refleksi 'Urgensi Filsafat dalam Pendidikan Islam untuk Pendidikan Karakter'



Filsafat bukanlah sekedaromong kosong belaka. Mempelajari filsafat penting adanya. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk mempelajari filsafat, maka sudah seharusnya dia mempelajari secara komprehensif dan menyeluruh. Berbicara masalah filsafat dan agama, memanglah berbeda dan seharusnya pada ruang dan waktunya masing-masing. Agama terkadang dianggap sebagai benteng yang mengungkung. Namun, dengan inovasi metodologi, maka perkembangan filsafat tidak hanya terkungkung (statis) tapi akan terus maju dan berkembang mengikuti perubahan zaman (dinamis).

Refleksi 'Forum Tanya Jawab 64 : Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari'



Artikel ini menunjukkan bahwa tiap-tiap yang ada di bumi ini pasti mempunyai perbedaan. Apa yang menjadi urusan pagi hari, belum tentu sama dengan di sore hari. Begitu pula dengan pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan yang lahir pasti berbeda-beda, baik dari tenaga pendidik maupun peserta didik. Perbedaan inilah yang menjadikan kekayaan khasanah di dunia pendidikan. setiap perbedaan bukan untuk dihilangkan, tetapi untuk disikapi dengan sebaik-baiknya, karena dari perbedaan itu akan memicu peningkatan kualitas pendidikan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 45: Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?'



Jauh dari syaithan merupakan keinginan semua muslim. Dalam rangka mengusir syaithan, kita harus benar-benar mennjaga hati, pikiran, dan lisan kita. Ikhlaskan segalanya karena Allah dan segera mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan merupakan salah satu cara mengusir syaithan. 

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 44: Kyai Mursidin 2'



Syaithan sangat menyukai manusia yang hati dan pikirannya ragu-ragu. Karena perasaan ragu-ragu akan mempermudah jalan syaithan untuk membelokkan jalan manusia. satu hal yang tidak disukai oleh syaithan dan sangat sulit ditembus oleh syaithan adalah perasaan ikhlas lillaahita’ala. Jadi, bila ingin menjauhkan diri dari syaithan, maka gapailah ikhlas hati hanya untuk Allah semata.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 43: Kyai Mursidin 1'



Syaithan, dahulunya adalah makhluk yang taat pada Allah. Namun, setelah Allah mengemukakan rencana-Nya untuk menjadikan manusia khalifah di bumu, syaithan dan iblis tidak menerimanya. Oleh sebab itu, syaithan sangat membenci manusia. syaithan akan menggoda manusia dengan godaan-godaan yang indah. Godaan tersebut akan dilancarkan dengan menggunakan berbagai macam cara. Untuk itu, manusia perlu mengadakan pembentengan diri dengan mendekatkan diri pada Allah.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 42: Mengubah Mitos menjadi Logos'



Mengubah paradigma manusia tidaklah mudah, kecuali mereka mau menyadarkan diri mereka sendiri dan membuka pikiran mereka tentang segala macam modernisasi. Mitos yang selalu mereka genggam tidak akan berlaku saat ini. yang diperlukan adalah kesiapan diri untuk menerima dan berpartisipasi dalam zaman modern. Mengganti pikiran-pikiran yang penuh mitos menjadi logos yang membangun.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 41: Balas Dendam Syaitan Terhadap Matematikawan'



Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Kesempurnaannya dikarenakan manusia ini dianugerahi akal dan pikiran. Meskipun manusia mempunyai ilmu yang tinggi, namun, tidak semestinya dia melupakan kodratnya sebagai makhluk Allah yang senantiasa penuh dengan dosa dan kesalahan. Apa yang didapatkan oleh manusia merupakan hasil dari doa mereka. Allah juga telah memberikan rizki kepada manusia walaupun mereka tidak meminta. Namun, rizki yang Allah berikan tersebut sebenarnya adalah cobaan. Cobaan apakah dia mau bersyukur ataukah kufur.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 40: Berguru Kepada Imam Al-Ghazali untuk Meningkatkan Kualitas Spiritual (Islam)'



Berguru untuk memperdalam keimanan adalah suatu keharusan. Memperdalam iman bisa dikatakan sebagai upaya memperbaiki diri dan imannya. Ketika dalam proses ini, mustahil manusia akan secara spontan dan instan mencapai tingkat kekhusukkan. Artinya, apabila manusia merasa bahwa dirinya belum khusuk itu adalah suatu hal yang wajar. Selama kita terus berusaha memperbaiki diri, berdzikir, berdoa, memohon ampun pada Allah, Insya Allah, Allah akan memudahkan jalan manusia menggapai khusuk dan ikhlas.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi'



Sepi. Sepi di sini dimaksudkan sepi dalam beribadah. Artinya adalah kekhusukan dalam beribadah dan beramal. Menggapai sepi diharapkan bahwa setelah melakukan amalan atau ibadah, maka hati, pikiran, dan lisan tidak akan mengungkapkannya. Jikalau hati, pikiran, atau lisan masih berkata, maka itu berarti belum berhasil menggapai sepi.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas'



Pikiran ikhlas akan dicapai setelah manusia dapat ikhlas dalam hati. Ketika manusia sudah ikhlas dalam hati, maka piran-pikirannya akan menjadi tenang. Dengan demikian, pikiran ikhlas akan mengikuti keikhlasan hati.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya'



Fatamorgana??? Apa itu fatamorgana??? Apa hubungannya dengan pikiran? Pikiran adalah sesuatu yang kita inginkan. Secara tidak langsung, apa yang terjadi adalah buah dari pikiran-pikiran kita. Pikiran kita juga dapat berarti mimpi. Mimpi yang tidak terwujudkan adalah fatamorgana. Jadi, fatamorgana berkaitan dengan pikiran merupakan mimpi yang tidak terwujudkan.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau'



Setiap manusia pasti memiliki rasa khawatir. Namun, khawatir yang berlebihan akan membawa manusia pada kungkungan yang kuat. Manusia akan sulit berkembang karena segala pertimbangannya didasarkan pada rasa khawatir. Tapi, rasa khawatir tersebut dapat diubah menjadi sebuah kekuatan untuk memperbaiki diri. Jadi kekhawatiran yang kita miliki akan bermanfaat apabila kita tepat dalam mengolahnya.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani'



Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna karena dianugerahi akal dan pikiran. Tetapi, Allah juga menganugerahkan kekurangan-kekurangan pada diri manusia. Kekurangan-kekurangan tersebut tidak lantas membuat harkat dan martabat manusai mmenjadi menurun, melainkan, melalui kekurangan tersebut, manusia diharapkan mampu mengolah dan mengembangkan kekurangannya menjadi sebuah kelebihan. Dengan demikian, maka manusia harus mau secara terbuka dan ikhlas menerima kritik dan saran yang membangun. Bila sudah begitu, manusia di bumi tidak hanya cerdas, tetapi cerdas bernurani.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 34: Menemukan Ruh'



Ruh, adalah karunia Allah yang bentuk dan wujudnya tidak pernah diketahui oleh manusia. Ruh termasuk dalam kategori ghaib. Meskipun, ruh adalah sesuatu yang tidak bisa terlihat, tetapi, sebagai seorang muslim, kita harus percaya tentang adanya ruh, sebagaimana kita percaya akan adanya malaikat dan Allah penguasa alam semesta.

Refleksi 'Elegi Ritual Ikhlas 33: Doakulah yang tersisa'



Setelah kita bertawakal kepada Allah, maka, yang selanjutnya kita lakukan adalah menyerahkan segala hasil dari usaha kita kepada Allah. Yang dimaksudkan menyerahkan segala hasilnya kepada Allah adalah tidak serta merta kita hanya berdiam diri menunggu hasil, tetapi berdoa. Berdoa memohon kepada Allah agar diberikan hasil yang terbaik sesuai dengan usaha kita. Tak lupa pula bersoa mohon ampun atas segala kesalahan yang diperbuat. Sungguh, tidak ada yang dapat menandingi kekuatan keikhlasan berdoa.