SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Jumat, 05 April 2013

Refleksi ”Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit”

http://powermathematics.blogspot.com/2012/12/masukkan-untuk-perbaikan-draft.html


Artikel ”Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit” hendaknya dapat membuka wawasan dan pemikiran kita bahwa kurikulum 2013 masih memerlukan perbaikan-perbaikan untuk memenuhi tuntutan zaman. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu memenuhi tuntutan zaman, mengembangkan potensi siswa dan guru, serta  memberikan keterampilan hidup (life skill). Masukan yang diberikan Pak Marsigit tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki kurikulum dan memperjelas apa yang menjadi maksud dari kurikulum tersebut. Ini dilakukan untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Sudah saatnya dilakukan reformasi pendidikan. Apa yang dulu patut dilakukan, sekarang sudah tidak mungkin untuk dilakukan karena tidak bisa mendukung situasi dan kondisi yang dihadapi. Saatnya untuk meninggalkan metode tradisional. Menganggap guru tahu segalanya dan siswanya dianggap sebagai gelas kosong yang tidak tahu apa-apa adalah sebuah kesalahan besar. Kurikulum 2013 ini hendaknya dapat membuka pikiran kita semua dan menyegerakan move on menggapai Indonesia yang lebih baik. Kalau kita mau berusaha, saya yakin KITA BISA!!!

Refleksi ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition’

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6614.html


Artikel ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition’ menjelaskan tentang keberadaan matematika sebagai suatu  kegiatan. Artinya, segala kegiatan terpusat pada siswa. Melalui matematika, siswa diberi kebebasan seluas-luasnya untuk menemukan pola-pola dalam rangka membangun pengetahuan. Matematika mempunyai kopetensi yang apabila itu benar- benar diberikan dengan mengacu pada kegiatan siswa, maka akan menghasilkan mathematic intuition.

Keberadaan intuisi tidak terlepas dari upaya pembiasaan siswa untuk berpikir secara benar, menghayati dalam hati, diucapkan, dan dilakukan dengan perbuatan. Sebenarnya, belum diketahui kapan dimulainya sebuah intuisi. Intuisi lahir melalui pengalaman-pengalaman yang dialami siswa. Semoga bermanfaat.


Refleksi ‘Elegi Menggapai Diri’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/elegi-menggapai-diri.html


            Berdasarkan artikelElegi Menggapai Diri’, saya dapat mengambil pelajaran tentang menjadi diri sendiri. Memang benar adanya, terkadang kita merasa ragu terhadap diri kita sendiri. Pertanyaan ini pun muncul: Siapakah diri kita? Hanya kita yang tahu jawabannya. Pada dasarnya, setiap manusia dianugerahi sifat baik dan buruk dalam dirinya. Hanya saja, bagaimana kita memutuskan selanjutnya. Itulah yang membuat kita berbeda. Apakah kita memutuskan untuk menjadi orang yang baik ataukah sebaliknya, menjadi orang yang jahat (buruk). Keputusan- keputusan ini kitalah yang memutuskan. Semoga bermanfaat.

Refleksi ‘Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/artikel-populer-pendidikan-karakter.html


BerdasarkanArtikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika’ telah menjelaskan dengan gamblang tentang matematika dan pendidikan karakter dengan berbagai dimensinya. Pendidikan karakter memang penting adanya. Fungsi utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk filter terhadap budaya-budaya modern yang mulai menggerogoti khasanah budaya bangsa. Bahkan, sudah menjalar hingga ke seluruh lapisan masyarakat, baik generasi tua, muda, dan anak-anak.

Fakta ini sangatlah memprihatinkan dan menjadi sorotan. Kondisi ini menggugah hati pemerintah untuk segera mengambil tindakan. Salah satunya dengan kebijakan perubahan kurikulum. Kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaru yang isi dan muatannya lebih banyak dan terfokus pada pendidikan karakter. Beberapa mata pelajaran ditiadakan, misalnya IPA dan IPS. Hal ini ditujukan memberikan alokasi waktu yang lebih banyak pada pendidikan karakter.

Pendidikan karakter yang dimaksudkan bukanlah secara teori saja, melainkan lebih pada pembiasaan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai- nilai karakter ini diintegrasikan pada setiap mata pelajaran. Salah satunya adalah mata pelajaran matematika. Melalui pelajaran matematika, siswa dapat dilatih dan dibiasakan untuk kerja keras, ulet, teliti, hati-hati, dan yang penting adalah perasaan memiliki rasa membutuhkan pendidikan matematika, sehingga akan memupuk semangat untuk selalu belajar. Pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam mata pelajaran matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan komunikasi spiritual. Di sini, peran guru sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter. Guru harus bisa semaksimal mungkin dalam menerapkan metode, sehingga pendidikan karakter ini benar- benar mengena dan membudaya. Pendidikan karakter ini diharapkan dapat menyelamatkan karakter bangsa yang semakin luntur.

Rabu, 03 April 2013

Refleksi ‘The Simple Logic of The Need to Reform of Mathematics Education in Indonesia’


http://powermathematics.blogspot.com/2008/12/simple-logic-of-need-to-reform-of.html 

 

Saya sependapat dengan artikel The Simple Logic of The Need to Reform of Mathematics Education in Indonesia’. Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa melakukan perubahan khususnya di bidang pendidikan tidaklah mudah. Diperlukan upaya dari seluruh pihak. Karena, hasil perubahan tidak akan sesuai dengan yang diharapkan apabila hanya menjangkau salah satu bidang saja. Perubahan harus diupayakan secara kkeseluruhan. Bagaimana mengubah paradigma guru yang masih berorientasi pada metode tradisional, bagaimana menumbuhkan intuisi siswa, bagaimana mengubah budaya teacher centered menjadi student centered, dan masih banyak lagi hal- hal yang harus dilakukan dalam rangka perubahan di bidang pendidikan. Pada intinya, semua upaya perubahan tersebut sudah dilaksanakan oleh Indonesia. Hanya saja, perlu diketahui bahwa hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini adalah program jangka panjang yang harus dilakukan seluruh pihak untuk memperbaiki pendidikan Indonesia. Semoga bermanfaat.