SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Jumat, 15 Maret 2013

INTUISI DAN PEMBELAJARAN INOVATIF


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 /II F

 

          Dari perkuliahan hari Kamis, 28 Februari 2013, ada banyak sekali yang saya dapatkan. Salah satunya adalah intuisi. Intuisi merupakan suatu pemahaman atau pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan atau didefinisikan. Keberadaan intuisi tidak diketahui kapan dimulainya. Intuisi sendiri diperoleh melalui pergaulan ataupun proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, seorang guru harus bisa mengembangkan intuisi anak. Caranya adalah melatih dan mengarahkan anak untuk berfikir sehingga anak dapat menemukan pola belajarnya. Intuisi anak dapat dimunculkan dengan pembiasaan berfikir benar (hati     pikiran         kata- kata          tindakan) sehingga setiap apa yang dikatakan dan dilakukan akan melahirkan manfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat secara luas. Diharapkan bahwa setiap anak yang memiliki intuisi yang baik dapat bertindak secara benar berdasarkan hati nuraninya.

          Dalam proses pembelajaran, dikenal metode deduksi dan metode induksi. Metode deduksi menjelaskan suatu permasalahan dari konsep umum ke khusus. Sedangkan metode induksi memaparkan suatu masalah dari khusus ke umum. Pikiran manusia mensinergikan antara metode deduksi dan induksi. Penggunaan metode deduksi atau induksi disesuaikan dengan ketentuan ruang dan waktu. Misalnya, pembelajaran bangun ruang dengan metode deduksi yaitu penggambaran secara umum, secara konkrit. Metode induksi digunakan oleh guru agar siswa menemukan pola-pola dalam pembelajaran. Metode dapat dikembangkan dengan:

1.    Keherensi, yaitu dikatakan benar berdasarkan perjanjian.

2.    Korespondensi. Metode ini tidak bisa menjamin kebenaran suatu pernyataan. Contohnya: 2 dan 7. Angka 2 dikatakan lebih besar daripada angka 7 dilihat dari ukurannya, bukan nilainya.

     Metode- metode tersebut bila dilaksanakan secara maksimal dapat memberikan manfaat. Terlebih lagi, ini akan mendukung terciptanya pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif tidak menyalahkan segala kondisi siswa, tetapi lebih kepada menyadarkan siswa untuk berusaha dan belajar. Inovatif tidak diidentikkan hanya dengan diskusi saja, melainkan bisa melibatkan fungsi internet dan permainan, karena tidak melepaskan dunia bermain nagi anak usia SD. Kemajuan teknologi akan memudahkan guru dalam upayanya membuka jendela baru bagi pengembangan kreativitas untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan sehingga dapat menjadikan belajar selezat makan coklat. Merubah pendekatan yang digunakan dari yang semula siswa sebagai obyek menjadi siswa sebagai subyek. Ini adalah tahap permulaan dalam usaha meninggalkan cara tradisional dan berubah ke arah inovatif. Selanjutnya, guru melakukan komunikasi secara dua arah, jadi, guru tidak selamanya menerangkan sepihak, memberi contoh soal, dan menyuruh siswanya mengerjakan paket-paket soal, tetapi sedari awal pembelajaran dimulai, guru sudah melibatkan siswa melalui apersepsi. Pembelajaran tidak melulu dengan buku tulis dan buku paket, tapi sesekali guru menginovasikannya menjadi permainan, diselingi bernyanyi atau bercerita yang masih berkaitan dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.

 

Pertanyaan:

1.    Mendekati Ujian Nasional, lembaga bimbingan belajar sering diramaikan dengan siswa didik yang ingin sukses di ujiannya. Tentor pun menawarkan rumus cepat, singkat, dan lebih dipahami siswa tanpa harus memikirkan langkah penyelesaian yang sesuai dengan materi. Bagaimana keberadaan rumus singkat ini dilihat dari sistematika matematika sebagai ilmu?

2.    Bagaimana mengenalkan The nature of school math pada siswa?


Refleksi Kuliah 1


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 /II F

Berdasarkan proses perkulahan pada hari Kamis, 14 Februari 2013, saya berkesimpulan bahwa menjadi seorang guru tanggung jawabnya sangat besar. Tidak hanya memberikan pelajaran (mengajar) tetapi juga bertanggung jawab atas sikap dan perilakunya. Dalam bidang akademik, seorang guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswanya. Pembelajaran yang inovatif sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dimana guru bertugas sebagai fasilitator agar siswa aktif dan kreatif dalam mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya. Pembelajaran dilaksanakan dua arah (guru dan siswa aktif). Guru menganggap siswanya sebagai subyek yang telah mempunyai pengetahuan sehingga guru tinggal melakukan apersepsi dan memberikan kesempatan seluas- luasnya kepada siswanya untuk mengembangkan pengetahuan siswa secara bertahap (melalui proses). Namun, semua itu tidak bisa terwujud apabila pemahaman mengajar guru masih tradisional. Mengubah pemahaman dari pemahaman tradisional menuju pemahaman yang inovatif tidaklah mudah karena hal tersebut merupakan budaya. Perubahan mendasar mengenai pemahaman, pengetahuan, kemauan, dan usaha itu terdapat pada diri pribadi masing- masing baik di pihak siswa maupun di pihak guru. Perubahan yang terjadi biasanya dalam skala kecil, secara bertahap dan membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu, saya berharap bisa menjadi guru yang cakap dan tanggap terhadap perubahan dan kebutuhan pendidikan sehingga mampu secara kreatif melakukan dan mengembangkan pembelajaran secara inovatif dan menyenangkan sehingga akan menstimulasi ketertarikan anak. Aamiin.



Sabtu, 09 Maret 2013

Refleksi ‘The anxiety of Mathematics Teachers and Their Problems’

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/the-anxiety-of-mathematics-teachers-and.html


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 (2F)


Artikel ‘The anxiety of Mathematics Teachers and Their Problems’ sudah sangat menjelaskan tentang fakta pendidikan Indonesia. Permasalahan- permasalahan yang dihadapi guru masih belum dapat diselesaikan secara maksimal. Kekurangtahuan guru tentang menjadi guru inovatif sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Guru terbiasa dengan mendapatkan hasil akhir yang bagus dibandingkan dengan kesuksesan siswa dalam menempuh proses pembelajaran. Guru menganggap dialah sumber pengetahuan bagi siswanya. Sedikit sekali guru yang mau menggunakan buku hasil karyanya. Mereka lebih cenderung menggunakan bukku karya orang lain karena merasa kurang percaya diri terhadap hasil karyanya. Sifat tradisional guru dalam mengajar sangatlah tidak mengembangkan LKS seluas- luasnya. Semoga ini bisa dipahami dan segera terselesaikan.

Refleksi ‘Peran Intuisi Dalam Pembelajaran Matematika’

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/peran-intuisi-dalam-pembelajaran.html


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 (2F)

            Dari artikel yang berjudulPeran Intuisi Dalam Pembelajaran Matematika’,dapat saya simpulkan bahwa intuisi adalah sesuatu yang sangat penting dalam matematika. Kadar intuisi yang dimiliki setiap siswa adalah berbeda. Ini harus dapat diperhatikan dengan baik oleh seorang guru. Intuisi adalah sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Namun, intuisi ini lahir dari pembiasaan- pembiasaan tentang pengakuan atas kebenaran. Kenyataannya bahwa saat ini banyak yang telah kehilangan intuisinya. Sudah jelaslah bahwa ini akan menjadi tugas seorang guru untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan intuisi anak, khususnya usia SD. Semoga bermanfaat.

Refleksi ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics’

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_5936.html


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 (II F)

Artikel ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics’ menjelaskan ada empat hakikat matematika sekolah (School Mathemaics) yang didefinisikan oleh Ebbutt and Straker (1995).  Keempat poin tersebut mengutarakan bahwa matematika adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan investigasi, dan komunikasi. Saya menyimpulkan bahwa keempat poin tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena itu merupakan suatu kesatuan. Harapannya empat poin ini dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran terutama matematika. Ini tentunya akan memberikan pengalaman aktivitas belajar yang menyenangkan karena kegiatan ini dilakukan oleh siswa. Siswa tidak akan bosan. Pembelajaran dititikberatkan pada aktivitas siswa itu sendiri. Bila ini terealisasi, bukan suatu hal yang tidak mungkin bila pendidikan Indonesia akan berkembang dan maju. Semoga bermanfaat.