INTUISI DAN PEMBELAJARAN INOVATIF
DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 /II F


Dari
perkuliahan hari Kamis, 28 Februari 2013, ada banyak sekali yang saya dapatkan.
Salah satunya adalah intuisi. Intuisi merupakan suatu pemahaman atau
pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan atau didefinisikan. Keberadaan intuisi
tidak diketahui kapan dimulainya. Intuisi sendiri diperoleh melalui pergaulan
ataupun proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, seorang guru harus bisa
mengembangkan intuisi anak. Caranya adalah melatih dan mengarahkan anak untuk
berfikir sehingga anak dapat menemukan pola belajarnya. Intuisi anak dapat
dimunculkan dengan pembiasaan berfikir benar (hati pikiran kata- kata tindakan) sehingga setiap apa yang
dikatakan dan dilakukan akan melahirkan manfaat bagi diri sendiri, orang lain,
dan masyarakat secara luas. Diharapkan bahwa setiap anak yang memiliki intuisi
yang baik dapat bertindak secara benar berdasarkan hati nuraninya.
Dalam proses
pembelajaran, dikenal metode deduksi dan metode induksi. Metode deduksi
menjelaskan suatu permasalahan dari konsep umum ke khusus. Sedangkan metode
induksi memaparkan suatu masalah dari khusus ke umum. Pikiran manusia
mensinergikan antara metode deduksi dan induksi. Penggunaan metode deduksi atau
induksi disesuaikan dengan ketentuan ruang dan waktu. Misalnya, pembelajaran
bangun ruang dengan metode deduksi yaitu penggambaran secara umum, secara
konkrit. Metode induksi digunakan oleh guru agar siswa menemukan pola-pola
dalam pembelajaran. Metode dapat dikembangkan dengan:
1. Keherensi, yaitu dikatakan
benar berdasarkan perjanjian.
2. Korespondensi. Metode ini
tidak bisa menjamin kebenaran suatu pernyataan. Contohnya: 2 dan 7. Angka 2 dikatakan lebih
besar daripada angka 7 dilihat dari ukurannya, bukan nilainya.
Metode- metode tersebut bila dilaksanakan secara maksimal dapat
memberikan manfaat. Terlebih lagi, ini akan mendukung terciptanya pembelajaran
yang inovatif. Pembelajaran inovatif tidak menyalahkan segala kondisi siswa,
tetapi lebih kepada menyadarkan siswa untuk berusaha dan belajar. Inovatif
tidak diidentikkan hanya dengan diskusi saja, melainkan bisa melibatkan fungsi
internet dan permainan, karena tidak melepaskan dunia bermain nagi anak usia
SD. Kemajuan
teknologi akan memudahkan guru dalam upayanya membuka jendela baru bagi pengembangan
kreativitas untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan
sehingga dapat menjadikan belajar selezat makan coklat. Merubah pendekatan yang
digunakan dari yang semula siswa sebagai obyek menjadi siswa sebagai subyek.
Ini adalah tahap permulaan dalam usaha meninggalkan cara tradisional dan
berubah ke arah inovatif. Selanjutnya, guru melakukan komunikasi secara dua
arah, jadi, guru tidak selamanya menerangkan sepihak, memberi contoh soal, dan
menyuruh siswanya mengerjakan paket-paket soal, tetapi sedari awal pembelajaran
dimulai, guru sudah melibatkan siswa melalui apersepsi. Pembelajaran tidak
melulu dengan buku tulis dan buku paket, tapi sesekali guru menginovasikannya
menjadi permainan, diselingi bernyanyi atau bercerita yang masih berkaitan
dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Pertanyaan:
1. Mendekati Ujian Nasional,
lembaga bimbingan belajar sering diramaikan dengan siswa didik yang ingin
sukses di ujiannya. Tentor pun menawarkan rumus cepat, singkat, dan lebih
dipahami siswa tanpa harus memikirkan langkah penyelesaian yang sesuai dengan
materi. Bagaimana keberadaan rumus singkat ini dilihat dari sistematika
matematika sebagai ilmu?
2. Bagaimana mengenalkan The
nature of school math pada siswa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar