http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/sekolah-bertaraf-internasional-sebuah.html
Assalamu'alaikum...terima kasih teman sudah berkenan berkunjung ke blog sederhana ini. Semoga bermanfaat :) Wassalamu'alaikum...
SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB
Sabtu, 13 April 2013
Refleksi ‘Mathematics and Language 11’
http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/mathematics-and-language-11.html
Artikel ‘Mathematics and Language 11’ memberikan saya banyak pelajaran. Bahwa Allah, Sang Pencipta, menciptakan manusia dan segala isi alam semesta ini dengan karakteristik yang berbeda- beda. Artinya, di alam semesta ini tidak ada yang sama. Setiap makhluk yang diciptakan-Nya akan mempumyai karakteristik dan ciri tersendiri yang akan menjadi pembeda dengan makhluk lain. Begitu juga dengan pemahaman dan persepsi. Setiap manusia mempunyai persepsi yang menjadi keyakinan mereka masing- masing. Dalam hal ini, apakah 1+1=2? Untuk orang awam atau pemula akan menjawab ya. Tapi, untuk orang yang sudah berpengetahuan tinggi mengenai matematika akan menjawab belum tentu. Mengapa? 1+1 belum tentu dua karena tergantung konteksnya. Di sini dibutuhkan pemahaman yang lebih. Ketika kita menjelaskan juga membutuhkan komunikasi yang baik. Penjelasan dilakukan dengan sejelas-jelasnya dan penuh pengertian tentang Apakah yang dimaksud dengan 1+1. Konteks seperti apa yang kita inginkan dan tentunya jawaban seperti apa yang kita inginkan. Semoga bermanfaat.
Rabu, 10 April 2013
Refkeksi ‘Mathematics and Language 2’
http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/mathematics-and-language-2.html
Dari Artikel ‘Mathematics and Language 2’ saya mendapat dua pelajaran penting tentang pembelajaran. Yang pertama adalah seorang guru harus benar-benar memahami materi yang disampaikan. Ini adalah hal yang sangat penting. Karena guru akan mengalami kesulitan apabila tidak memahami materi. Akan lebih baik jika guru mengembangkan materinya agar pengetahuan yang dimiliki dapat lebih banyak dan pemahaman guru lebih mendalam. Dengan memahami materi yang dipelajari, dapat mempermudah guru untuk mengaitkan materi tersebut dengan maple lain maupun lingkungan sebagai pendukung pendidikan tematik-integratif.
Poin kedua yang saya dapatkan adalah pemosisian seorang guru. Guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator, bukan sebagai subyek. Di sini, siswalah yang menjadi subyek. Artinya, pembelajaran myang dilakukan adalah kegiatan siswa. Dengan begitu siswa akan mendapat pengalaman belajar secara langsung yang dapat membantu membangun rantai kognitifnya. Dengan cara ini, guru juga dapat membanguan dan menjaga intuisi siswa. Semoga bermanfaat.
Jumat, 05 April 2013
Refleksi Kuliah
LESSON STUDY,
HARAPAN BARU PENDIDIKAN INDONESIA
Dari perkuliahan tanggal 12 Maret 2013, saya mendapatkan banyak pengetahuan dasar sebagai modal untuk mengajar dan mendidik anak usia SD. Sebagai seorang guru, maka ia harus dapat dipercaya (Accountability) dan kepercayaan itu akan menjadikan kebiasaan yang terus- menerus (Sustainability) sehingga guru tersebut tidak akan mengingkari apa yang sudah dipercayakan oleh masyarakat. Sebagai konsekuensinya, guru harus mampu menghadapi dua emosi yang berbeda, yaitu emosi siswa dan emosi orang tua siswa. Guru harus menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan guru lain dan orang tua. Lingkungan ini yang akan mempengaruhi perkembangan siswa.
Gebrakan baru dalam dunia pendidikan adalah Lesson Study. Cara ini mengutamakan kerja sama dari dua guru untuk mengajar satu kelas secara bersama- sama. Lesson Study ini menekankankegiatan para guru yang secara bersama- sama merencanakan, mengamati, menganalisa, dan memperbaiki pelajaran kelas. Guru harus bisa berkolaborasi dengan baik agar pembelajaran dapat memberikan manfaat secara maksimal. Dalam Lesson Study ini, pembelajaran tetap terpusat pada aktivitas siswa dalam menemukan pola-pola tertentu sehingga akan merangsang siswa untuk berfikir secara kritis. Di sini, guru hanyalah sebagai fasilitator, sehingga 75% proses belajar harus dilakukan siswa itu sendiri.
Lesson study secara luas dikreditkan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam Lesson study guru harus memikirkan tentang tujuan jangka panjang pendidikan, seperti cinta belajar dan menghormati orang lain. Hati-hati mempertimbangkan tujuan dari subjek satuan luas tertentu, atau pelajaran (misalnya, mengapa ilmu pengetahuan yang diajarkan, apa yang penting tentang pengungkit, bagaimana memperkenalkan pengungkit), dan lain- lain.
Rencana proses pembelajaran kelas akan membawa guru dan siswa menuju ke tujuan pembelajaran yang spesifik dan tujuan jangka panjang bagi siswa. Guru harus selalu berhati-hati mempelajari bagaimana siswa menanggapi pelajaran, termasuk belajar mereka, keterlibatan, dan kerja sama satu sama lain. Guru juga harus memberikan perhatian yang lebih pada anak yang sekiranya membutuhkan bantuan untuk mengembangkan belajarnya, terlebih pada anak yang kesulitan dalam belajar. Ketika ada anak yang bertanya, guru dengan senang hati akan menjelaskan. Guru boleh bertanya pada siswa untuk membangun dan mengembangkan rasa ingin tahu dalam diri siswa.
Lesson Study tidak serta merta hanya pengkolaborasian antara dua guru, tetapi ada aktivitas pokok yang harus dilaksanakan. Tiga aktivitas dalam Lesson Study dikenal dengan tahap Plan (merencanakan), tahap Do (melaksanakan), dan tahap See (merefleksi) yang dilakukan secara berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement). Dalam hal ini guru yang mempraktikkan Lesson Study, bekerja sama dengan sesama guru dalam menetapkan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan berdasarkan tuntutan kurikulum.
Di Indonesia Lesson Study berkembang melalui Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project (IMSTEP) yang diimplementasikan sejak sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung (sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia, UPI), IKIP Yogyakarta (sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta, UNY) dan IKIP Malang (sekarang menjadi Universitas Negeri Malang) bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Semoga dengan gebrakan baru ini, pendidikan Indonesia bisa berkembang dan menjadi lebih baik.
REFLEKSI kuliah Tanggal 28 Maret 2013
INDONESIA BISA!!!
Setelah menonton video tentang proses pembelajaran di Jepang kelas lima tentang materi mencari luas bangun datar, saya merasa bahwa ada banyak hal yang dapat kita ambil untuk memperbaiki proses pembelajaran di SD. Misalnya saja, siswa tidak langsung diberikan rumusnya, tetapi biarkan siswa mengeksplorasi rasa ingin tahunya dibantu dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga siswa dapat menemukan rumus mereka sendiri. Guru tinggal melakukan beberapa perbaikan apabila apa yang ditemukan siswa kurang tepat atau tidak sesuai dengan teori.
Awalnya, guru melakukan pembukaan dengan apersepsi dan membangun suatu konsep tentang luas bangun datar. Dalam melakukan apersepsinya, guru juga melibatkan siswa. Siswa diminta maju ke depan dan menjawab pertanyaan guru, serta menjelaskan pada teman-temannya. Tentunya, apa yang dijelaskan anak sesuai dengan apa yang telah diketahuinya. Tahap ini akan memberikan gambaran pada guru tentang sejauh mana siswanya mengetahui dan memahami konsep luas bangun datar. Setelah menyatukan konsep, maka siswa dibawa ke tahap berikutnya.
Selanjutnya, guru membiarkan anak mencari rumus luas bangun datar sesuai dengan pemahaman mereka. Kegiatan ini membiarkan anak mencari informasi sebanyak- banyaknya untuk mengembangkan pengetahuannya. Dengan cara ini, guru bisa mengetahui pola beroikir anak. Apakah sudah mampu menangkap maksud guru ataukah masih memerlukan bantuan. Dalam tahap ini, siswa dikelompokkan dan diberi LKS. Kemudian siswa diminta berdiskusi tentang bagaimana cara mencari luas bangun datar sesuai dengan gambar yang ada di LKS. Setelah memecahkan masalah dan diketahui yang paling benar menurut kelompok, kemudian mereka akan mempresentasikannya di depan. Yang dilakukan guru selanjutnya adalah membenahi apabila ada yang kurang tepat dan menyimpulkan hasil pembelajaran. Siswa juga diminta melakukan refleksi tentang proses pembelajaran tersebut. Cara ini menuntut kekreativitasan guru agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan.
Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain pembelajaran yang dilakukan sudah memusatkan pada kegiatan siswa, sehingga ini akan mengembangkan intuisi. Anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Metode ini juga menstimulasi cara berpikir kritis anak dan melatih keterampilan anak dalam memecahkan masalah. Selanjutnya, keberanian anak dibiasakan melalui penyampaian pertanyaan dan pendapat.
Disamping beberapa keunggulang di atas, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut misalnya siswa tidak bisa menikmati masa bermain di waktu Sekolah Dasar. Hal ini karena mereka dituntut untuk memahami apa yang diberikan guru sesuai dengan instruksi gurunya. Sejak dini, anak telah diajarkan untuk berpikir keras, sehingga ini bisa mengganggu perkembangan psikologi anak. Dunia sekolah anak penuh dengan tuntutan. Tuntutan untuk bisa berpikir cerdas, tuntutan untuk bisa memahami sesuai dengan yang diharapkan guru, dan lain- lain. Bila dilihat dari siswanya, sekolah ini diperuntukkan bagi anak- anak yang cerdas. Karena apabila mereka tidak bisa mengikuti sistam pembelajaran yang ditetapkan, maka mereka akan kewalahan dan bisa mengganggu aktivitas anak yang lain.
Metode ini dapat diterapkan di Indonesia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Namun, perlu diketahui bahwa kemungkinan hasilnya akan jauh berbeda dengan yang ada di Jepang. Hal ini karena input yang dimiliki Indonesia kualitasnya kurang. Begitu pula dengan kondisi lingkungan sosial budayanya yang kurang mendukung. Kebanyakan masyarakat masih berorientasi pada ekonomi, bukan pendidikan. Hal ini tentunya akan mempersulit kerja sama untuk menciptakan suasana belajar bagi anak di lingkungannya. Anak juga lebih suka suatu kebebasan, tidak suka diatur, dan yang terpenting adalah bermain. Bermain adalah hal yang penting bagi anak khusunya usia SD. Kondisi ini menyebabkan anak akan sulit diajak berpikir kritis. Bahkan terkadang anak yang paling pandai sekalipun jarang ada yang bisa berpikir kritis. Faktornya adalah mereka terbiasa dengan diberi penjelasan guru. Mereka tinggal menerima dan mempelajari apa yang telah disampaikan guru. Guru tidak menstimulasi anak didiknya untuk berpikir dan mengembangkan pengetahuannya sehingga anak ini hanya mempunyai pengetahuan sebatas apa yang telah guru berikan.
Indonesia hanya mempunyai beberapa guru kompeten. Hal ini akan mempersulit dalam menerapkan metode ini. Apalagi guru yang kompeten ditempatkan di tempat yang sama dengan guru yang kurang kompeten. Guru yang satu telah melakukan inovasi tetapi tidak didukung oleh guru yang lain. Indonesia sendiri belum bisa menerapkan Team Teaching, karena jumlah guru yang ada belum mampu memenuhi kuota yang dibutuhkan oleh Indonesia. Terlebih di daerah pedalaman (3T). Akses yang sulit menyebabkan guru enggan ditempatkan di sana. Padahal awalnya guru-guru ini berniat mengabdi. Tapi ketika di lapangan hasilnya nol. Pemerintah juga masih kesulitan dalam meratakan pendidikan Indonesia. Hal ini karena Indonesia adalah Negara kepulauan yang sangat luas wilayahnya. Kondisi yang mendukung metode ini kemungkinan adalah kota. Orang kota biasanya telah berpikir maju. Namun, lagi-lagi tidak banyak sekolah yang memenuhi syarat dengan berbagai situasi dan kondisinya.
Sebenarnya, metode ini dapat diaplikasikan di pendidikan Indonesia meskipun dengan berbagai macam kendala baik input, tenaga pengajar, kondisi lingkungan sosial budaya, kepribadian anak, ekonomi, dan lain sebagainya. Artinya, tenaga pendidik harus memiliki kemampuan ekstra untuk mengolah siswanya menuju ke budaya berpikir kritis. Layaknya sebuah sistem, hal ini harus didukung oleh komponen tenaga di sekolah, orang tua di rumah, dan masyarakat di lingkungannya. Bila kita semua bersatu, berusaha menggapai impian Indonesia lebih baik maka saya yakin INDONESIA BISA!!!
Langganan:
Komentar (Atom)