INDONESIA BISA!!!
Setelah menonton video tentang proses pembelajaran di
Jepang kelas lima tentang materi mencari luas bangun datar, saya merasa bahwa ada
banyak hal yang dapat kita ambil untuk memperbaiki proses pembelajaran di SD.
Misalnya saja, siswa tidak langsung diberikan rumusnya, tetapi biarkan siswa
mengeksplorasi rasa ingin tahunya dibantu dengan pengetahuan yang dimiliki
sehingga siswa dapat menemukan rumus mereka sendiri. Guru tinggal melakukan
beberapa perbaikan apabila apa yang ditemukan siswa kurang tepat atau tidak
sesuai dengan teori.
Awalnya, guru melakukan pembukaan dengan apersepsi dan
membangun suatu konsep tentang luas bangun datar. Dalam melakukan apersepsinya,
guru juga melibatkan siswa. Siswa diminta maju ke depan dan menjawab pertanyaan
guru, serta menjelaskan pada teman-temannya. Tentunya, apa yang dijelaskan anak
sesuai dengan apa yang telah diketahuinya. Tahap ini akan memberikan gambaran
pada guru tentang sejauh mana siswanya mengetahui dan memahami konsep luas
bangun datar. Setelah menyatukan konsep, maka siswa dibawa ke tahap berikutnya.
Selanjutnya, guru membiarkan anak mencari rumus luas bangun
datar sesuai dengan pemahaman mereka. Kegiatan ini membiarkan anak mencari
informasi sebanyak- banyaknya untuk mengembangkan pengetahuannya. Dengan cara
ini, guru bisa mengetahui pola beroikir anak. Apakah sudah mampu menangkap
maksud guru ataukah masih memerlukan bantuan. Dalam tahap ini, siswa
dikelompokkan dan diberi LKS. Kemudian siswa diminta berdiskusi tentang
bagaimana cara mencari luas bangun datar sesuai dengan gambar yang ada di LKS.
Setelah memecahkan masalah dan diketahui yang paling benar menurut kelompok,
kemudian mereka akan mempresentasikannya di depan. Yang dilakukan guru
selanjutnya adalah membenahi apabila ada yang kurang tepat dan menyimpulkan
hasil pembelajaran. Siswa juga diminta melakukan refleksi tentang proses
pembelajaran tersebut. Cara ini menuntut kekreativitasan guru agar pembelajaran
dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan.
Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya
antara lain pembelajaran yang dilakukan sudah memusatkan pada kegiatan siswa,
sehingga ini akan mengembangkan intuisi. Anak diberikan kesempatan
seluas-luasnya untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Metode ini juga
menstimulasi cara berpikir kritis anak dan melatih keterampilan anak dalam
memecahkan masalah. Selanjutnya, keberanian anak dibiasakan melalui penyampaian
pertanyaan dan pendapat.
Disamping beberapa keunggulang di atas, metode ini juga
memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut misalnya siswa tidak bisa
menikmati masa bermain di waktu Sekolah Dasar. Hal ini karena mereka dituntut
untuk memahami apa yang diberikan guru sesuai dengan instruksi gurunya. Sejak
dini, anak telah diajarkan untuk berpikir keras, sehingga ini bisa mengganggu
perkembangan psikologi anak. Dunia sekolah anak penuh dengan tuntutan. Tuntutan
untuk bisa berpikir cerdas, tuntutan untuk bisa memahami sesuai dengan yang
diharapkan guru, dan lain- lain. Bila dilihat dari siswanya, sekolah ini
diperuntukkan bagi anak- anak yang cerdas. Karena apabila mereka tidak bisa
mengikuti sistam pembelajaran yang ditetapkan, maka mereka akan kewalahan dan
bisa mengganggu aktivitas anak yang lain.
Metode ini dapat diterapkan di Indonesia dengan berbagai
kelebihan dan kekurangannya. Namun, perlu diketahui bahwa kemungkinan hasilnya
akan jauh berbeda dengan yang ada di Jepang. Hal ini karena input yang dimiliki
Indonesia kualitasnya kurang. Begitu pula dengan kondisi lingkungan sosial
budayanya yang kurang mendukung. Kebanyakan masyarakat masih berorientasi pada
ekonomi, bukan pendidikan. Hal ini tentunya akan mempersulit kerja sama untuk
menciptakan suasana belajar bagi anak di lingkungannya. Anak juga lebih suka
suatu kebebasan, tidak suka diatur, dan yang terpenting adalah bermain. Bermain
adalah hal yang penting bagi anak khusunya usia SD. Kondisi ini menyebabkan
anak akan sulit diajak berpikir kritis. Bahkan terkadang anak yang paling
pandai sekalipun jarang ada yang bisa berpikir kritis. Faktornya adalah mereka
terbiasa dengan diberi penjelasan guru. Mereka tinggal menerima dan mempelajari
apa yang telah disampaikan guru. Guru tidak menstimulasi anak didiknya untuk
berpikir dan mengembangkan
pengetahuannya sehingga anak ini hanya mempunyai pengetahuan sebatas apa yang
telah guru berikan.
Indonesia hanya mempunyai beberapa guru kompeten. Hal ini
akan mempersulit dalam menerapkan metode ini. Apalagi guru yang kompeten
ditempatkan di tempat yang sama dengan guru yang kurang kompeten. Guru yang
satu telah melakukan inovasi tetapi tidak didukung oleh guru yang lain.
Indonesia sendiri belum bisa menerapkan Team Teaching, karena jumlah guru yang
ada belum mampu memenuhi kuota yang dibutuhkan oleh Indonesia. Terlebih di
daerah pedalaman (3T). Akses yang sulit menyebabkan guru enggan ditempatkan di
sana. Padahal awalnya guru-guru ini berniat mengabdi. Tapi ketika di lapangan
hasilnya nol. Pemerintah juga masih kesulitan dalam meratakan pendidikan
Indonesia. Hal ini karena Indonesia adalah Negara kepulauan yang sangat luas
wilayahnya. Kondisi yang mendukung metode ini kemungkinan adalah kota. Orang
kota biasanya telah berpikir maju. Namun, lagi-lagi tidak banyak sekolah yang
memenuhi syarat dengan berbagai situasi dan kondisinya.
Sebenarnya, metode ini dapat diaplikasikan di pendidikan
Indonesia meskipun dengan berbagai macam kendala baik input, tenaga pengajar,
kondisi lingkungan sosial budaya, kepribadian anak, ekonomi, dan lain
sebagainya. Artinya, tenaga pendidik harus memiliki kemampuan ekstra untuk
mengolah siswanya menuju ke budaya berpikir kritis. Layaknya sebuah
sistem, hal ini harus didukung oleh
komponen tenaga di sekolah, orang tua di rumah, dan masyarakat di
lingkungannya. Bila kita semua bersatu, berusaha menggapai impian Indonesia
lebih baik maka saya yakin INDONESIA BISA!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar