SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Jumat, 05 April 2013

REFLEKSI kuliah Tanggal 28 Maret 2013


INDONESIA BISA!!!

Setelah menonton video tentang proses pembelajaran di Jepang kelas lima tentang materi mencari luas bangun datar, saya merasa bahwa ada banyak hal yang dapat kita ambil untuk memperbaiki proses pembelajaran di SD. Misalnya saja, siswa tidak langsung diberikan rumusnya, tetapi biarkan siswa mengeksplorasi rasa ingin tahunya dibantu dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga siswa dapat menemukan rumus mereka sendiri. Guru tinggal melakukan beberapa perbaikan apabila apa yang ditemukan siswa kurang tepat atau tidak sesuai dengan teori.

Awalnya, guru melakukan pembukaan dengan apersepsi dan membangun suatu konsep tentang luas bangun datar. Dalam melakukan apersepsinya, guru juga melibatkan siswa. Siswa diminta maju ke depan dan menjawab pertanyaan guru, serta menjelaskan pada teman-temannya. Tentunya, apa yang dijelaskan anak sesuai dengan apa yang telah diketahuinya. Tahap ini akan memberikan gambaran pada guru tentang sejauh mana siswanya mengetahui dan memahami konsep luas bangun datar. Setelah menyatukan konsep, maka siswa dibawa ke tahap berikutnya.

Selanjutnya, guru membiarkan anak mencari rumus luas bangun datar sesuai dengan pemahaman mereka. Kegiatan ini membiarkan anak mencari informasi sebanyak- banyaknya untuk mengembangkan pengetahuannya. Dengan cara ini, guru bisa mengetahui pola beroikir anak. Apakah sudah mampu menangkap maksud guru ataukah masih memerlukan bantuan. Dalam tahap ini, siswa dikelompokkan dan diberi LKS. Kemudian siswa diminta berdiskusi tentang bagaimana cara mencari luas bangun datar sesuai dengan gambar yang ada di LKS. Setelah memecahkan masalah dan diketahui yang paling benar menurut kelompok, kemudian mereka akan mempresentasikannya di depan. Yang dilakukan guru selanjutnya adalah membenahi apabila ada yang kurang tepat dan menyimpulkan hasil pembelajaran. Siswa juga diminta melakukan refleksi tentang proses pembelajaran tersebut. Cara ini menuntut kekreativitasan guru agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan.

Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain pembelajaran yang dilakukan sudah memusatkan pada kegiatan siswa, sehingga ini akan mengembangkan intuisi. Anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Metode ini juga menstimulasi cara berpikir kritis anak dan melatih keterampilan anak dalam memecahkan masalah. Selanjutnya, keberanian anak dibiasakan melalui penyampaian pertanyaan dan pendapat.

Disamping beberapa keunggulang di atas, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut misalnya siswa tidak bisa menikmati masa bermain di waktu Sekolah Dasar. Hal ini karena mereka dituntut untuk memahami apa yang diberikan guru sesuai dengan instruksi gurunya. Sejak dini, anak telah diajarkan untuk berpikir keras, sehingga ini bisa mengganggu perkembangan psikologi anak. Dunia sekolah anak penuh dengan tuntutan. Tuntutan untuk bisa berpikir cerdas, tuntutan untuk bisa memahami sesuai dengan yang diharapkan guru, dan lain- lain. Bila dilihat dari siswanya, sekolah ini diperuntukkan bagi anak- anak yang cerdas. Karena apabila mereka tidak bisa mengikuti sistam pembelajaran yang ditetapkan, maka mereka akan kewalahan dan bisa mengganggu aktivitas anak yang lain.

Metode ini dapat diterapkan di Indonesia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Namun, perlu diketahui bahwa kemungkinan hasilnya akan jauh berbeda dengan yang ada di Jepang. Hal ini karena input yang dimiliki Indonesia kualitasnya kurang. Begitu pula dengan kondisi lingkungan sosial budayanya yang kurang mendukung. Kebanyakan masyarakat masih berorientasi pada ekonomi, bukan pendidikan. Hal ini tentunya akan mempersulit kerja sama untuk menciptakan suasana belajar bagi anak di lingkungannya. Anak juga lebih suka suatu kebebasan, tidak suka diatur, dan yang terpenting adalah bermain. Bermain adalah hal yang penting bagi anak khusunya usia SD. Kondisi ini menyebabkan anak akan sulit diajak berpikir kritis. Bahkan terkadang anak yang paling pandai sekalipun jarang ada yang bisa berpikir kritis. Faktornya adalah mereka terbiasa dengan diberi penjelasan guru. Mereka tinggal menerima dan mempelajari apa yang telah disampaikan guru. Guru tidak menstimulasi anak didiknya untuk berpikir  dan mengembangkan pengetahuannya sehingga anak ini hanya mempunyai pengetahuan sebatas apa yang telah guru berikan.

Indonesia hanya mempunyai beberapa guru kompeten. Hal ini akan mempersulit dalam menerapkan metode ini. Apalagi guru yang kompeten ditempatkan di tempat yang sama dengan guru yang kurang kompeten. Guru yang satu telah melakukan inovasi tetapi tidak didukung oleh guru yang lain. Indonesia sendiri belum bisa menerapkan Team Teaching, karena jumlah guru yang ada belum mampu memenuhi kuota yang dibutuhkan oleh Indonesia. Terlebih di daerah pedalaman (3T). Akses yang sulit menyebabkan guru enggan ditempatkan di sana. Padahal awalnya guru-guru ini berniat mengabdi. Tapi ketika di lapangan hasilnya nol. Pemerintah juga masih kesulitan dalam meratakan pendidikan Indonesia. Hal ini karena Indonesia adalah Negara kepulauan yang sangat luas wilayahnya. Kondisi yang mendukung metode ini kemungkinan adalah kota. Orang kota biasanya telah berpikir maju. Namun, lagi-lagi tidak banyak sekolah yang memenuhi syarat dengan berbagai situasi dan kondisinya.

Sebenarnya, metode ini dapat diaplikasikan di pendidikan Indonesia meskipun dengan berbagai macam kendala baik input, tenaga pengajar, kondisi lingkungan sosial budaya, kepribadian anak, ekonomi, dan lain sebagainya. Artinya, tenaga pendidik harus memiliki kemampuan ekstra untuk mengolah siswanya menuju ke budaya berpikir kritis. Layaknya sebuah sistem,  hal ini harus didukung oleh komponen tenaga di sekolah, orang tua di rumah, dan masyarakat di lingkungannya. Bila kita semua bersatu, berusaha menggapai impian Indonesia lebih baik maka saya yakin INDONESIA BISA!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar