SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Minggu, 24 Maret 2013

Refleksi ‘Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/sekolah-bertaraf-internasional.html


Berkaitan dengan artikel ‘Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology’, saya berpendapat bahwa Indonesia berusaha memperbaiki kaulitas pendidikan. Adanya RSBI menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan pendidikan Indonesia agar dapat bersaing di kancah internasional dan tidak tertinggal dengan sekolah lainnya. Suatu sekolah akan dinobatkan sebagai RSBI apabila telah memenuhi IKKT (Indikator Kinerja Kunci Tambahan) dari pencapaian 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan. Untuk itu, tidaklah mudah menuju RSBI. Dibutuhkan kerja sama, kekompakan, dan kesolidan antar komponen pendukung.
 Namun, sungguh disayangkan, adanya RSBI kurang bisa dikelola dan  dimanfaatkan dengan maksimal sehingga hasil RSBI kurang sesuai dengan yang diharapkan. Banyak sekali yang berbelok arah ataupun berhenti di tengah jalan. Beberapa kasus mengenai RSBI mulai mencuat. Mulai dari RSBI dicap sebagai Rintisan Sekolah Bertarif Internasional hingga kurangnya fasilitas, sarana, dan prasarana penunjang kegiatan belajar. Banyak yang menyayangkan biaya yang mahal tapi tidak berbanding lurus dengan kualitas yang diberikan, sehingga mereka kurang puas dengan output yang didapat. Perbaikan pendidikan memanglah harus didukung oleh semua pihak. Harapannya, apa pun yang telah ditetapkan oleh pemerintah sudah berdasarkan pertimbangan pelaksanaan kepentingan bersama. Artinya, bila dipandang perlu membuat kebijakan baru hendaknya tetap memperhatikan kebutuhan dan fakta di lapangan. Kita sebagai warga Negara yang baik harus mendukung keputusan yang telah dibuat selama itu tidak merugikan pihak manapun. Semoga bermanfaat.

Refleksi ‘The Nature of Mathematics and School Mathematics’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-mathematics-and-school.html


Dari artikel ‘The Nature of Mathematics and School Mathematics’ saya beranggapan memang begitulah seharusnya, bahwa sebagai guru harus benar- benar memahami materi yang akan diajarkan kepada siswanya. Mengapa? Karena pemahaman seorang guru akan memengaruhi sejauh mana materi tersebut dapat dikembangkan. Pengembangan yang dilakukan tidak monoton, artinya hanya berasal dari guru saja, tetapi dengan membudayakan siswanya untuk melakukan kegiatan mencari pola, memecahkan masalah, dan menganalisis suatu masalah. Penemuan siswa akan beragam. Ini akan memperbanyak pengetahuan siswa dan guru. Begitu juga dengan matematika. Matematika ditekankan pada kegiatan siswa mencari pola- pola yang mereka inginkan. Dengan demikian siswa akan terbiasa dengan matematika yang menyenangkan, sehingga akan menghilangkan citra matematika sebagai momok dalam pelajaran. Kesemuanya itu harus dimulai dari perubahan pandangan guru dari tradisional ke inovatif. Ini sangatlah penting. Fakta membuktikan bahwa kebutuhan siswa di zaman sekarang ini tidak bisa terpenuhi hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru tanpa mereka kembangkan sendiri. Ibaratnya, guru mempunyai kapasitas 30% dalam memberikan pengetahuan, 20% keluarga dan lingkungan, dan 50% siswa mengembangkan sendiri. Begitulah tuntutan di zaman yang semakin maju ini. Oleh sebab itu, sejak sekarang guru harus membuat gebrakan baru dalam pembelajaran. Membuat pembelajaran inovatif dan menyenangkan. Salah satu caranya dengan menerapkan hakikat matematika di sekolah (Ebbutt and Straker, 1995) yang terdiri dari kegiatan penulusuran pola atau hubungan, kegiatan kreativitas imajinasi, intuisi, dan penemuan, kegiatan pemecahan masalah (problem solving), dan komunikasi. Guru hanya menciptakan budaya belajar dan menjadi fasilitator, sedangkan segala aktivitas berpusat pada siswa. Semoga bermanfaat.

Refleksi ‘The Nature of Teaching Learning Processes’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-teaching-learning.html


Dari artikelThe Nature of Teaching Learning Processes’ dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai seorang pendidik, seseorang dituntut untuk mau tidak mau harus siap menghadapi keadaan siswanya yang berbeda- beda. Keberagaman keadaan siswa ini meliputi keberagaman emosi, tingkat pemahaman, pola belajar, dan lain- lain. Untuk itu, guru hendaknya mampu melakukan pendekatan- pendekatan yang dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam tingkat yang berbeda- beda. Guru juga harus mengarahkan semua keahliannya untuk melakukan perombakan dan melakukan inovasi agar dapat merangsang siswa untuk belajar. Seorang pendidik yang baik tidak akan menuntut siswanya untuk beradaptasi dengannya, tetapi dia akan berusaha beradaptasi dengan keadaan siswa, baik secara klasikal maupun individual. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 23 Maret 2013

Refleksi ‘The Nature of Teaching Learning Processes’

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-teaching-learning.html


Dari artikelThe Nature of Teaching Learning Processes’ dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai seorang pendidik, seseorang dituntut untuk mau tidak mau harus siap menghadapi keadaan siswanya yang berbeda- beda. Keberagaman keadaan siswa ini meliputi keberagaman emosi, tingkat pemahaman, pola belajar, dan lain- lain. Untuk itu, guru hendaknya mampu melakukan pendekatan- pendekatan yang dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam tingkat yang berbeda- beda. Guru juga harus mengarahkan semua keahliannya untuk melakukan perombakan dan melakukan inovasi agar dapat merangsang siswa untuk belajar. Seorang pendidik yang baik tidak akan menuntut siswanya untuk beradaptasi dengannya, tetapi dia akan berusaha beradaptasi dengan keadaan siswa, baik secara klasikal maupun individual. Semoga bermanfaat.

Jumat, 15 Maret 2013

INOVASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS DUA SD DI JEPANG


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 /II F


            Dari video tentang proses pembelajaran di SD di Jepang, banyak sekali pengetahuan yang dapat kita ambil. Refleksi ini bukan untuk membandingkan antara pendidikan Indonesia dengan Jepang. Tapi, lebih kepada penguraian keunggulan- keunggulan atau inovasi- inovasi baru dalam pendidikan Jepang yang dapat diambil oleh Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan.
            Dalam video tersebut terlihat dengan jelas bahwa proses pembelajaran matematika kelas dua di SD Jepang sangatlah inovatif. Siswa sangat antusias mengikuti pelajaran perkalian. Ditambah lagi mereka punya semangat untuk mencari jawaban atas pertanyaan mereka sendiri. Pembelajaran matematika di Jepang menggunakan Team Teaching, yaitu ada dua guru dalam satu kelas yang mempunyai tugas saling membantu dalam proses pembelajaran. Ketika guru yang satu sedang menjelaskan di depan, maka guru yang lain mengawasi siswa di belakang. Guru sangat memperhatikan bila ada siswanya yang bertanya, karena keberanian mengajukan pertanyaan memang harus diberi apresiasi.
            Proses pembelajaran dimulai dengan guru melakukan apersepsi dan penjelasan singkat tentang apa yang akan dipelajari, dalam hal ini adalah perkalian. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian, guru membagikan LKS untuk dibahas oleh kelompok. LKS tidak berwujud daftar perkalian, namun tabel perkalian. Dengan LKS ini berarti guru memberi masalah pada siswanya untuk dipecahkan. Tentunya, pembahasan dari setiap kelompok akan berbeda- beda. Inilah yang memperkaya pengetahuan mereka. Mereka mendapatkan banyak pengetahuan dalam satu kali pertemuan. Dalam proses diskusi ini, siswa diberikan kebebasan seluas- luasnya untuk mencari pengetahuan, mencari jawaban atas pertanyaannya, dan menemukan pola- pola belajar, namun guru  tetap mendampingi dan membimbing ketika siswanya berdiskusi. Guru melakukan patroli dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk menanyakan apa yang mereka temukan dan menjelaskan bila ada kelompok yang bertanya. Dalam membimbing siswa berdiskusi, guru tetap memfokuskan pada kegiatan siswa, artinya guru tidak ceramah dalam menjelaskan, tetapi lebih kepada memberikan stimulus pada siswa agar siswa berfikir dan menemukan jawaban atas pertanyaan mereka.
            Selanjutnya, setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusinya. Di sini anak benar- benar menjelaskan kepada guru dan temannya tentang apa yang mereka temukan. Teman dari kelompok lain diperbolehkan bertanya bila ada yang belum jelas, dan mengajukan usul bila ada kekeliruan. Pertanyaan yang diberikan, akan dijawab oleh siswa yang presentasi dan teman sekelompoknya. Bila kelompok tersebut tidak bisa menjawab, barulah guru yang menjelaskan. Guru akan melakukan klarifikasi pada akhir presentasi setiap kelompok. Klarifikasi ini adalah untuk melakukan koreksi pada hasil diskusi. Bila ada kekeliruan dalam pembahasan ataupun dalam menjawab pertanyaan, gurulah yang membenarkan. Pada akhirnya banyak ditemukan pola pemahaman dalam perkalian. Akhirnya, guru melakukan penilaian dan evaluasi terhadap pembelajaran perkalian ini. Tak lupa guru memberikan pujian dan motivasi pada anak yang sudah berani mengemukakan pendapat dan pertanyaannya.
            Sebenarnya, Indonesia tenaga pendidik yang cukup banyak. Namun, jumlah yang ada tidak bisa disebarkan secara merata oleh pemerintah. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan yang ada, yaitu reformasi dari sistem belajar yang tradisional menuju ke inovatif. Inovatif artinya guru dapat menemukan ide- ide kreatif untuk mengembangkan potensi siswanya. Hal yang penting adalah bagaimana menjadikan guru Indonesia inovatif dan meninggalkan cara mengajar yang tradisional. Upaya perbaikan tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena, sebagian besar guru menganggap mengajar adalah untuk memenuhi kebutuhan, bukan sebagain hobi. Bila gurunya sudah inovatif, maka sudah dipastikan bahwa pendidikan Indonesia akan mengalami kemajuan yang pesat.  Indonesia mempunyai anak- anak penerus bangsa yang cerdas dan sangat berpotensi. Tinggal bagaimana guru dan lingkungannya mengolah. Inilah tugas kita para guru dan orang tua, bagaimana kita memaksimalkan potensi anak, mengembangkan seluas- luasnya dan memperdalam sedalam- dalamnya sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Seperti perumpamaan, semakin buah itu masak maka akan semakin manis rasanya. Semoga bermanfaat.


Pertanyaan:
1.    Di Indonesia, sudah adakah SD yang menggunakan Team Teaching? Bagaimana hasil atau perubahan yang diciptakan oleh adanya Team Teaching ini?