http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-mathematics-and-school.html
Dari
artikel ‘The Nature of Mathematics and School Mathematics’ saya beranggapan
memang begitulah seharusnya, bahwa sebagai guru harus benar- benar memahami
materi yang akan diajarkan kepada siswanya. Mengapa? Karena pemahaman seorang
guru akan memengaruhi sejauh mana materi tersebut dapat dikembangkan.
Pengembangan yang dilakukan tidak monoton, artinya hanya berasal dari guru
saja, tetapi dengan membudayakan siswanya untuk melakukan kegiatan mencari
pola, memecahkan masalah, dan menganalisis suatu masalah. Penemuan siswa akan
beragam. Ini akan memperbanyak pengetahuan siswa dan guru. Begitu juga dengan
matematika. Matematika ditekankan pada kegiatan siswa mencari pola- pola yang
mereka inginkan. Dengan demikian siswa akan terbiasa dengan matematika yang
menyenangkan, sehingga akan menghilangkan citra matematika sebagai momok dalam
pelajaran. Kesemuanya itu harus dimulai dari perubahan pandangan guru dari
tradisional ke inovatif. Ini sangatlah penting. Fakta membuktikan bahwa
kebutuhan siswa di zaman sekarang ini tidak bisa terpenuhi hanya dengan
mendengarkan penjelasan dari guru tanpa mereka kembangkan sendiri. Ibaratnya,
guru mempunyai kapasitas 30% dalam memberikan pengetahuan, 20% keluarga dan
lingkungan, dan 50% siswa mengembangkan sendiri. Begitulah tuntutan di zaman
yang semakin maju ini. Oleh sebab itu, sejak sekarang guru harus membuat
gebrakan baru dalam pembelajaran. Membuat pembelajaran inovatif dan
menyenangkan. Salah satu caranya dengan menerapkan hakikat matematika di
sekolah (Ebbutt and Straker, 1995) yang terdiri dari kegiatan penulusuran pola
atau hubungan, kegiatan kreativitas imajinasi, intuisi, dan penemuan, kegiatan
pemecahan masalah (problem solving), dan komunikasi. Guru hanya menciptakan
budaya belajar dan menjadi fasilitator, sedangkan segala aktivitas berpusat
pada siswa. Semoga bermanfaat.