DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 /II F
Dari
video tentang proses pembelajaran di SD di Jepang, banyak sekali pengetahuan
yang dapat kita ambil. Refleksi ini bukan untuk membandingkan antara pendidikan
Indonesia dengan Jepang. Tapi, lebih kepada penguraian keunggulan- keunggulan
atau inovasi- inovasi baru dalam pendidikan Jepang yang dapat diambil oleh
Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam
video tersebut terlihat dengan jelas bahwa proses pembelajaran matematika kelas
dua di SD Jepang sangatlah inovatif. Siswa sangat antusias mengikuti pelajaran
perkalian. Ditambah lagi mereka punya semangat untuk mencari jawaban atas
pertanyaan mereka sendiri. Pembelajaran matematika di Jepang menggunakan Team
Teaching, yaitu ada dua guru dalam satu kelas yang mempunyai tugas saling
membantu dalam proses pembelajaran. Ketika guru yang satu sedang menjelaskan di
depan, maka guru yang lain mengawasi siswa di belakang. Guru sangat
memperhatikan bila ada siswanya yang bertanya, karena keberanian mengajukan
pertanyaan memang harus diberi apresiasi.
Proses pembelajaran dimulai dengan
guru melakukan apersepsi dan penjelasan singkat tentang apa yang akan dipelajari,
dalam hal ini adalah perkalian. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
Kemudian, guru membagikan LKS untuk dibahas oleh kelompok. LKS tidak berwujud
daftar perkalian, namun tabel perkalian. Dengan LKS ini berarti guru memberi
masalah pada siswanya untuk dipecahkan. Tentunya, pembahasan dari setiap
kelompok akan berbeda- beda. Inilah yang memperkaya pengetahuan mereka. Mereka
mendapatkan banyak pengetahuan dalam satu kali pertemuan. Dalam proses diskusi
ini, siswa diberikan kebebasan seluas- luasnya untuk mencari pengetahuan,
mencari jawaban atas pertanyaannya, dan menemukan pola- pola belajar, namun guru tetap mendampingi dan membimbing ketika
siswanya berdiskusi. Guru melakukan patroli dari satu kelompok ke kelompok yang
lain untuk menanyakan apa yang mereka temukan dan menjelaskan bila ada kelompok
yang bertanya. Dalam membimbing siswa berdiskusi, guru tetap memfokuskan pada
kegiatan siswa, artinya guru tidak ceramah dalam menjelaskan, tetapi lebih
kepada memberikan stimulus pada siswa agar siswa berfikir dan menemukan jawaban
atas pertanyaan mereka.
Selanjutnya, setiap kelompok diminta
mempresentasikan hasil diskusinya. Di sini anak benar- benar menjelaskan kepada
guru dan temannya tentang apa yang mereka temukan. Teman dari kelompok lain
diperbolehkan bertanya bila ada yang belum jelas, dan mengajukan usul bila ada
kekeliruan. Pertanyaan yang diberikan, akan dijawab oleh siswa yang presentasi
dan teman sekelompoknya. Bila kelompok tersebut tidak bisa menjawab, barulah
guru yang menjelaskan. Guru akan melakukan klarifikasi pada akhir presentasi
setiap kelompok. Klarifikasi ini adalah untuk melakukan koreksi pada hasil
diskusi. Bila ada kekeliruan dalam pembahasan ataupun dalam menjawab
pertanyaan, gurulah yang membenarkan. Pada akhirnya banyak ditemukan pola
pemahaman dalam perkalian. Akhirnya, guru melakukan penilaian dan evaluasi
terhadap pembelajaran perkalian ini. Tak lupa guru memberikan pujian dan
motivasi pada anak yang sudah berani mengemukakan pendapat dan pertanyaannya.
Sebenarnya, Indonesia tenaga
pendidik yang cukup banyak. Namun, jumlah yang ada tidak bisa disebarkan secara
merata oleh pemerintah. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki
dalam sistem pendidikan yang ada, yaitu reformasi dari sistem belajar yang
tradisional menuju ke inovatif. Inovatif artinya guru dapat menemukan ide- ide
kreatif untuk mengembangkan potensi siswanya. Hal yang penting adalah bagaimana
menjadikan guru Indonesia inovatif dan meninggalkan cara mengajar yang
tradisional. Upaya perbaikan tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karena, sebagian besar guru menganggap mengajar adalah untuk memenuhi
kebutuhan, bukan sebagain hobi. Bila gurunya sudah inovatif, maka sudah
dipastikan bahwa pendidikan Indonesia akan mengalami kemajuan yang pesat. Indonesia mempunyai anak- anak penerus bangsa
yang cerdas dan sangat berpotensi. Tinggal bagaimana guru dan lingkungannya
mengolah. Inilah tugas kita para guru dan orang tua, bagaimana kita
memaksimalkan potensi anak, mengembangkan seluas- luasnya dan memperdalam
sedalam- dalamnya sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.
Seperti perumpamaan, semakin buah itu masak maka akan semakin manis rasanya.
Semoga bermanfaat.
Pertanyaan:
1.
Di
Indonesia, sudah adakah SD yang menggunakan Team Teaching? Bagaimana
hasil atau perubahan yang diciptakan oleh adanya Team Teaching ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar