Refleksi ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)’
http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_8043.html
DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 (2F)
Artikel ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic
Mathematics (2)’ telah menjelaskan pendapat Imanuel Kant secara gamblang.
Beliau menjelaskan bahwa matematika lahir dan dibangun berdasarkan hasil
perpaduan antara analitik a priori" dan "sintetik a posteriori" yang akan
melahirkan pemahaman dan pengetahuan matematika yang bersifat "sintetik
apriori". Saya tertarik dengan pernyataan bahwa matematika itu tidak lain
dan tidak bukan adalah pikiran dari siswa itu sendiri. Inilah yang seharusnya
menjadi pemahaman bagi semua pihak bahwa matematika bukanlah sesuatu yang bisa
dipaksakan oleh guru maupun patokan yang ditentukan oleh pembuat kebijakan.
Target pencapaian dalam pembelajaran tidak bisa ditentukan secara masal karena
setiap siswa mempunyai jangkauan pemikiran yang berbeda- beda. Siswalah yang
menentukan seperti apa pengetahuan matematika yang mereka bangun. Guru hanya
menjadi fasilitator, selebihnya siswalah yang mencari pengalaman dan
pengetahuan belajar. Pengetahuan diartikan sebagai pikiran (a priori).
Harapannya, siswa dapat memadukan antara pikiran (a priori) dengan pengalaman
(a posteriori) melalui interaksi yang kemudian akan melahirkan sintetik
apriori. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar