SM3T 2016

SM3T 2016
Pulau Kelapa, Bima, NTB

Sabtu, 09 Maret 2013

Refleksi ‘Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)’

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_8043.html


DEVI MISWANTINA/ 12108241094/ PGSD 2012 (2F)


ArtikelElegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)’ telah menjelaskan pendapat Imanuel Kant secara gamblang. Beliau menjelaskan bahwa matematika lahir dan dibangun berdasarkan hasil perpaduan antara analitik a priori" dan "sintetik a posteriori" yang akan melahirkan pemahaman dan pengetahuan matematika yang bersifat "sintetik apriori". Saya tertarik dengan pernyataan bahwa matematika itu tidak lain dan tidak bukan adalah pikiran dari siswa itu sendiri. Inilah yang seharusnya menjadi pemahaman bagi semua pihak bahwa matematika bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan oleh guru maupun patokan yang ditentukan oleh pembuat kebijakan. Target pencapaian dalam pembelajaran tidak bisa ditentukan secara masal karena setiap siswa mempunyai jangkauan pemikiran yang berbeda- beda. Siswalah yang menentukan seperti apa pengetahuan matematika yang mereka bangun. Guru hanya menjadi fasilitator, selebihnya siswalah yang mencari pengalaman dan pengetahuan belajar. Pengetahuan diartikan sebagai pikiran (a priori). Harapannya, siswa dapat memadukan antara pikiran (a priori) dengan pengalaman (a posteriori) melalui interaksi yang kemudian akan melahirkan sintetik apriori. Semoga bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar